Sejarah Jalai Lintang
Perjalanan panjang dari permohonan wilayah, perjanjian darah, hingga lahirnya Ketemenggungan yang berdiri kokoh hingga hari ini.
Sejarah Ketemenggungan Iban Jalai Lintang
Sejarah Ketemenggungan Iban Jalai Lintang bermula sekitar tahun 1819 ketika Pateh Judan datang dari Kanawit untuk meminta wilayah pemukiman. Atas arahan Tamanggong Tamambaloh, perjalanan panjang ini berujung pada terbentuknya sebuah kesatuan adat yang masih hidup hingga kini.
Pateh Judan tiba dari Kanawit
Atas arahan Tamanggong Tamambaloh (Kalung Tali Ma Surat), Pateh Judan menemui Maling Ma Lunsa (Baki Maling) yang memimpin wilayah hilir di Jalai Lintang yang saat itu masih luas dan belum berpenghuni. Pateh Judan kemudian mengajukan permohonan untuk mendiami daerah perbukitan di Banua Sungute atau Sungai Utik.
Ritual maisap darah & sumpah beras kuning
Permohonan diterima oleh Maling Ma Lunsa dengan syarat tegas bahwa tradisi kayao (mengayau/berburu kepala) harus dihentikan dan seluruh aturan adat setempat wajib dipatuhi demi menjaga kedamaian. Setelah menyanggupi persyaratan tersebut, keduanya mengikat tali persaudaraan melalui ritual adat maisap darah serta sumpah beras kuning (simamangan).
Sebagai bukti kepercayaan dan persaudaraan, Baki Maling menyerahkan sebuah pusaka berupa Gunsi (guci/tempayan) dan memberi wewenang penuh kepada Pateh Judan untuk mengelola wilayah Sungai Utik.
Perjanjian tertulis di bawah Demang Salam
Perjanjian lisan yang diwariskan oleh para nenek moyang ditransformasikan menjadi kesepakatan tertulis pada tahun 1928. Perjanjian ini mengatur pembagian batas kerja dan pemukiman — Suku Tamambaloh di bagian hilir Jalai Lintang dan Suku Iban di bagian hulu. Selain menegaskan kembali larangan tradisi ngayao, perjanjian ini mengatur kerja sama pengelolaan hasil alam seperti kayu tebelian dan pohon buah, kewajiban saling membantu, serta pengakuan bahwa Suku Iban adalah bagian dari keluarga besar Tamambaloh.
Lahirnya Ketemenggungan Iban Jalai Lintang
Pateh Judan secara resmi diangkat menjadi Temanggung Iban Jalai Lintang oleh Maling Ma Lunsa pada masa pemerintahan Belanda. Pengangkatan ini menandai lahirnya Ketemenggungan Iban Jalai Lintang secara resmi sekaligus penyerahan kekuasaan penuh untuk mengatur dan mengurus Banua Jalai Lintang secara turun-temurun.
Kepemimpinan Ketemenggungan turun-temurun
Kepemimpinan Ketemenggungan terus berlanjut hingga kini melalui garis kepemimpinan yang berkesinambungan, menjaga warisan leluhur dan mengelola wilayah adat Jalai Lintang.